
SMAN 1 Abang, 3 September 2026 —
Suasana pembiasaan pagi di SMA Negeri 1 Abang (SMAGESA) hari ini terasa berbeda. Melalui program “Kisah Bu Intan”, siswa diajak melihat persoalan bullying atau perundungan bukan sekadar sebagai sebuah tema, tetapi sebagai pengalaman nyata yang bisa meninggalkan luka sekaligus menjadi titik awal untuk bangkit dan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kegiatan pagi ini dipandu oleh Bapak Komang Hery Abdi bersama guru-guru MGMP Matematika, dengan melibatkan siswa dari ekstrakurikuler ROOTH SMAGESA. Dengan mengusung semangat “Bersama Kita Ciptakan Sekolah Aman, Nyaman, dan Penuh Hormat”, kegiatan dikemas secara komunikatif, menyentuh, dan dekat dengan kehidupan para siswa.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah penampilan tiga orang siswa yang dikoordinasikan oleh Wira. Mereka membawakan sebuah dialog yang mengangkat pengalaman pribadi tentang perundungan—tentang bagaimana seseorang pernah menjadi korban, merasakan dampaknya, dan kemudian berusaha bangkit dari pengalaman tersebut.
Cerita yang disampaikan bukan sekadar sebuah penampilan. Di hadapan teman-temannya, ketiga siswa tersebut mencoba menyampaikan pesan bahwa pengalaman tidak menyenangkan tidak harus membuat seseorang terus terpuruk. Dukungan dari teman, keberanian untuk bercerita, serta lingkungan sekolah yang aman dan penuh kepedulian dapat menjadi kekuatan untuk bangkit.
Suasana pembiasaan pagi pun berubah menjadi ruang refleksi bersama. Siswa-siswa lainnya tampak menyimak cerita teman-temannya.
Dari pengalaman tersebut, mereka diajak untuk memahami bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Karena itu, saling menghargai, tidak mengejek, tidak merendahkan, dan berani membantu teman yang mengalami perundungan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman.
Setelah penampilan dialog, salah seorang siswa diberikan kesempatan menyampaikan refleksi atas cerita yang telah dibawakan. Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga tempat belajar membangun persahabatan, empati, dan karakter.
Puncak kegiatan semakin semarak ketika Wira tampil ke depan untuk memimpin yel-yel ROOTH SMAGESA. Dengan penuh semangat, yel-yel tersebut kemudian diikuti oleh seluruh siswa sehingga menciptakan suasana kebersamaan yang kuat.
“Sekolah Aman, Kita Nyaman!”
Seruan tersebut menggema dan menjadi pesan utama pembiasaan pagi hari ini. Sebuah kalimat sederhana, tetapi mengandung komitmen bersama bahwa setiap siswa berhak berada di sekolah yang aman, nyaman, dihargai, dan bebas dari perundungan.
Melalui Kisah Bu Intan, SMAGESA terus menghadirkan pembiasaan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak siswa mendengar, memahami, merasakan, merefleksikan, dan bergerak bersama.
Karena pada akhirnya, sekolah yang aman tidak tercipta hanya dari aturan, tetapi dari kepedulian setiap warganya.
Kita berbeda, tetapi kita bersaudara.
Stop Bullying!
ROOTH SMAGESA — Sekolah Aman, Kita Nyaman.
Humas SMAGESA

Tinggalkan Komentar